Balasan Allah Terhadap Perbuatan Baik ketika di Dunia

Category: Khasanah Islam 32 0

Balasan Allah Terhadap Perbuatan Baik

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ: قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَرَأَيْتَ الرَّجُلَ يَعْمَلُ الْعَمَلَ مِنْ الْخَيْرِ وَيَحْمَدُهُ (أَوْ يُحِبُّهُ) النَّاسُ عَلَيْهِ؟ قَالَ: تِلْكَ عَاجِلُ بُشْرَى الْمُؤْمِنِ.

Dari Abu Dzar ra berkata: “Wahai Rasulullah, apa pendapat anda tentang seseorang yang mengerjakan suatu perbuatan baik, lantas dia mendapatkan cinta dan sanjungan dari manusia?. beliau bersabda, “Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin.[1] (HR. Muslim)

Dalam hadis ini Nabi saw memberitakan bahwa pengaruh-pengaruh amal perbuatan yang terpuji yang disegerakan di dunia. Ini merupakan kabar gembira. karena Allah telah berjanji kepada para wali-wali-Nya. Mereka adalah orang-orang yang bertakwa dan beriman dengan kabar gembira di dunia dan akhirat.

Kata al-bisyarah adalah kabar atau perkara yang membahagiakan, karena hamba mengetahui kebaikan akhir dari perkara tersebut, mengetahui bahwa dirinya termasuk orang-orang yang berbahagia dan amalnya diterima.

Sementara kabar gembira di akhirat adalah dengan ridha dan pahala dari Allah, keselamatan dari murka dan siksa-Nya ketika mati dan di alam kubur, dan ketika dibangkitkan. Ketika itulah Allah memberikan kepada hamba-Nya yang beriman kabar gembira di hadapan para malaikat. Sebagaimana yang banyak dijumpai dalam nash Al-Qur’an dan sunah. Dan hal ini sudah kita ketahui bersama.

Sedangkan kabar gembira di dunia yang Allah berikan kepada orang-orang yang beriman, menjadi contoh dan keutamaan-Nya yang disegerakan, dan sebagai perkenalan bagi mereka. Ini semua sebagai motivasi bagi mereka agar beramal. Kabar gembira yang paling bersifat umum adalah taufik Allah bagi mereka dan penjagaan Allah bagi mereka dari segala keburukan. Sebagaimana yang disabdakan Nabi #saw, “Orang yang berbahagia mendapatkan kemudahan dalam mengerjakan amal orang-orang yang berbahagia.[2]

Bila hamba mendapatkan amal-amal kebaikan terasa mudah baginya, dan merasakan dirinya mendapat penjagaan Allah dari segala amal yang membahyakan dirinya, ini merupakan kabar gembira yang menjadi petunjuk bagi seorang mukmin akan kebaikan akhir perkaranya. Sebab Allah Dzat yang Maha Pemurah, bila Dia telah memulai suatu kebaikan bagi hamba-Nya niscaya akan menyempurnakannya. Kebaikan yang paling besar yang Allah anugerahkan kepada hamba-Nya adalah anugerah agama, sehingga seorang mukmin merasakan kebahagiaan yang sempurna, kebahagiaan dengan karunia Allah kepadanya dengan amal-amal kebaikan dan kemudahannya. Karena tanda iman yang terbesar adalah cinta kebaikan, senang padanya, berbahagia ketika mengerjakannya, merasa gembira dengan rasa manisnya kenikmatan, dan keutamaan yang sempurna yang Allah anugerahkan kepadanya.

Di antaranya adalah yang disebutkan Nabi #saw dalam hadis ini, yaitu apabila seorang hamba mengerjakan amal kebaikan –khususnya perbuatan-perbuatan tepuji dan proyek-proyek kebaikan yang memiliki manfaat bagi umum, yang menyebabkan cinta, sanjungan, dan doa manusia kepadanya– ini semua merupakan kabar gembira yang menunjukkan bahwa amal ini diterima, dan amal tersebut mendapatkan berkah dan kebaikan dari Allah.

Cinta dari kaum mukminin kepada seseorang merupakan salah satu bentuk kabar gembira dalam kehidupan di dunia ini, sebagaimana yang Allah firmankan, “Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak Allah Yang Maha Pengasih akan menanamkan rasa kasih sayang dalam hati mereka.[3] Maksudnya cinta dari Allah bagi mereka dan cinta dalam hati para hamba kepada mereka.

Demikian pula sanjungan dari manusia merupakan bagian dari kabar gembira, karena banyaknya sanjungan dari orang-orang yang beriman kepada seorang hamba merupakan kesaksian dari mereka bagi hamba tersebut. Sedangkan orang-orang yang beriman merupakan para saksi yang ada di muka bumi ini.

Dan bentuk lain kabar gembira adalah takdir Allah bagi seorang hamba baik yang dia cintai atau yang dia benci, lantas Allah menjadikan takdir tersebut sebagai sarana menuju kebaikan agamanya dan keselamatannya dari segala keburukan.

Ragam dan macam karunia dan kasih sayang Allah tidak terbatas dan tidak pula terhitung jumlahnya, tidak terlintas dalam benak dan tidak pula ada dalam khayal.

——————————–

[1] Muslim, Al-Birr wa Ash-Shilah wa Al-Adab, 2642, Ibnu Majah, Az-Zuhd, 4225, dan Ahmad, 156.

[2] Al-Bukhari, Al-Janaiz, 1296, Muslim, Al-Qadr, 2647, dan Abu Dawud, As-Sunnah, 4694.

[3] Maryam: 96.

 

Related Articles

Add Comment