Hadits Tentang Ikhlas Beramal

Category: Hadits 31 0

Hadits Tentang Ikhlas Beramal

 

عَنْ أَمِيرِ المُؤمِنينَ أَبي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ تَعَالىَ عنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلىَ اللهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَوِ امْرأَةٍ يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ.  مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

 

Umar bin Khattab ra berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Hanyasanya amal tergantung pada niat, dan hanyasanya setiap orang mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya. Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya menjadi kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya untuk dunia yang ingin dia peroleh atau wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya sesuai untuk apa yang dia niatkan dalam hijrahnya.‘” (Muttafaqun alaih).[1]

 

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ ―وَفِي رِوَايَةٍ― مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ. مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Aisyah ra berkata, “Rasulullah saw bersabda, ‘Barangsiapa membuat perkara baru dalam perkara kami yang tidak termasuk darinya,’”[2]dan dalam riwayat lain disebutkan, ‘Barangsiapa yang beramal yang tidak berdasarkan perintah kami niscaya ia tertolak.’”(Muttafaqun alaih)[3]

Dua pesan agung dari Nabi ini (hadis pertama dan kedua) mencakup seluruh perkara agama baik pokok maupun cabangnya, baik lahir maupun batinnya. Hadis Umar berperan sebagai standar amal batin, dan hadis Aisyah sebagai standar amal lahir. Dua amal tersebut harus dilaksanakan secara ikhlas kepada Allah Dzat yang berhak untuk diibadahi, serta dengan meneladani Rasulullah saw.

Dua hal di atas merupakan syarat diterimanya ibadah. Orang yang ikhlas dalam amalnya serta meneladani Rasulullah dalam pelaksanaannya niscaya amalnya diterima. Sementara orang yang kehilangan keduanya atau salah satu darinya ketika beramal niscaya amalnya tertolak. Allah Ta’ala berfirman:

 

Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang mereka kerjakan, lalu akan kami jadikan amal itu bagaikan debu yang beterbangan.[4]

Sementara orang yang menghimpun keduanya disebutkan di dalam firman Allah:

Dan siapakah yang lebih baik dari orang yang dengan ikhlas berserah diri kepada Allah, sedang dia mengerjakan kebaikan dan mengikuti agama Ibrahim yang lurus. Dan Allah telah memilih Ibrahim menjadi kesayangan-Nya.[5]

Dan firman Allah Ta’ala:

 

Tidak, barangsiapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapatkan pahala di sisi Rabb-nya dan tidak ada rasa takut pada mereka, dan mereka tidak bersedih hati.[6]

Niat adalah menyengaja suatu perbuatan demi mendekatkan diri kepada Allah, memohon ridha dan pahala-Nya. Niat ini mencakup niat atas suatu amalan, dan niat untuk siapa amal yang akan dikerjakan.

 

Niat Amalan

 

Bersuci, shalat, zakat, puasa, haji, dan seluruh ibadah tidak akan sah kecuali dengan menyengaja dan meniatkannya. Hendaknya seseorang meniatkan ibadah tertentu yang ia laksanakan. Jika ibadah tersebut memiliki beberapa macam, seperti shalat yang mencakup shalat fardhu, sunah tertentu (mu’ayyan) dan sunah mutlak. Maka dalam shalat sunnah mutlak seseorang cukup melakukan niat shalat. Sedangkan dalam shalat mu’ayyan (tertentu), baik shalat fardhu atau sunah mu’ayyan seperti witir atau rawatib, harus berniat dengan niat shalat tertentu tersebut. Selanjutnya, seperti ini pula yang berlaku pada ibadah-ibadah yang lain.

Hendaknya seseorang membedakan antara kebiasaan dengan ibadah. Mandi misalnya. Mandi bisa dilakukan untuk membersihkan diri atau mendinginkan badan. Tapi bisa pula dilakukan untuk bersuci dari hadats besar, mandi setelah memandikan jenazah, atau untuk shalat Jumat. Dengan demikian harus ada niat untuk menghilangkan hadats besar atau untuk mandi sunah Jumat.

Contoh lainnya adalah seseorang yang mengeluarkan harta untuk zakat, kafarat, nazar, sedekah, atau hadiah. Maka niatlah yang menentukan jenisnya.

Berdasarkan hadis ini, mensiasati muamalah yang bentuk dan lahirnya sah, tetapi sebenarnya dimaksudkan sebagai sarana muamalah ribawi, atau untuk menggugurkan kewajiban, atau sebagai sarana menuju perkara haram, maka yang dinilai dalam hal ini adalah niat dan tujuannya, bukan lafal lahirnya. Karena, seluruh amal itu tergantung pada niatnya.

Hal semacam itu adalah menyandarkan sesuatu yang tidak menjadi tujuan kepada sesuatu yang lain sebagai gantinya. Atau menyandarkan sebuah akad yang tidak menjadi tujaun pada sebuah akad yang lain. Inilah yang diterangkan oleh Syaikhul Islam.

Demikian pula syarat yang Allah berikan dalam perkara rujuk dan wasiat, yaitu seorang hamba tidak diperkenankan untuk memiliki maksud memberikan madharat dalam dua perkara itu.

Masuk dalam kategori ini pula seluruh sarana yang dijadikan wasilah menuju maksud dan tujuannya. Maka semua sarana atau wasilah ini memiliki hukum yang sama dengan maksud dan tujuannya; baik ataupun buruknya. Allah Maha Mengetahui orang yang berbuat baik dan yang berbuat buruk.

 

Niat Yang Baik Hasilnya Baik

 

Niat untuk siapa amalan yang akan dikerjakan ini wujudnya adalah keikhlasan kepada Allah dalam setiap yang dikerjakan dan ditinggalkan, serta dalam segala yang diucapkan dan diperbuat. Allah Ta’ala berfirman:

Padahal mereka hanya diperintahkan beribadah kepada Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama yang lurus, dan juga agar melaksankan shalat dan menunaikan zakat. Dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (Al-Bayyinah: 5)

Dan firman Allah:

Ingatlah, hanya milik Allah agama yang murni.” (Az-Zumar: 3).

Hal itu karena seorang hamba harus melakukan niat yang menyeluruh dan mencakup segala perkaranya tertuju pada Allah, mendekat kepada-Nya, memohon pahala-Nya, mengharap balasan-Nya, dan takut akan siksa-Nya. Selanjutnya niat ini mengiringi segala perbuatan, ucapan, segala gerak dan diamnya.

Dia berusaha merealisasikan keikhlasan sampai pada tingkat kesempurnaannya, dan menjauhi segala yang berlawanan dengannya, seperti riya’ (ingin dilihat orang lain), sum’ah (ingin didengar orang lain), dan dipuji dan diagungkan orang lain. Misalkan hal-hal tersebut memang terjadi padanya, hendaknya dia tidak menjadikannya sebagai maksud dan tujuan. Akan tetapi maksudnya adalah mencari wajah Allah Ta’ala dan pahala-Nya. Bukan untuk mencari perhatian makhluk atau sanjungan mereka. Bila hal ini terjadi tanpa kesengajaan, itu tidaklah mengapa. Bahkan, mungkin itu menjadi kabar gembira bagi seorang mukmin yang Allah segerakan.

Adapun sabda Nabi saw, “Hanyasanya amal tergantung pada niat,” maksudnya: seluruh amal tidak akan terlaksana kecuali dengan adanya niat. Sedangkan amal itu pusatnya adalah niat.

Sabda Nabi saw, “Dan hanyasanya setiap orang mendapatkan balasan sesuai dengan niatnya,” maksudnya sah atau rusaknya amal sesuai dengan niat hamba, demikian pula sempurna atau kurangnya. Hamba yang meniatkan berbuat baik dan bermaksud tujuan yang tinggi, yaitu mendekat kepada Allah, dia berhak mendapatkan pahala dan balasan yang sempurna. Sementara hamba yang memiliki niat yang kurang, maka pahalanya pun kurang. Barangsiapa yang niatannya bukan untuk hal yang mulia ini, maka kebaikan akan luput darinya. Dia hanya akan mendapatkan tujuan yang rendah dan kurang, sesuai yang dia niatkan.

Oleh karenanya, Rasulullah mengambil perumpamaan guna mengiaskannya dengan seluruh amal yang lainnya dengan bersabda, “Barangsiapa hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya.” Maksudnya, dia mendapatkan apa yang dia niatkan itu, dan ia mendapatkan pahalanya di sisi Allah.

Sabda Rasulullah, “Dan barangsiapa hijrahnya untuk dunia yang ingin dia peroleh atau wanita yang ingin dia nikahi, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang dia niatkan dalam hijrahnya.” Dalam kalimat di atas, Nabi mengkhususkan wanita yang hendak dinikahi setelah menyebutkan keumuman seluruh perkara dunia. Hal ini untuk menegaskan bahwa semua perkara tersebut merupakan tujuan yang rendah dan tidak bermanfaat.

Demikian pula ketika beliau ditanya tentang seorang lelaki yang berperang karena keberanian dan semangat, atau agar diketahui kedudukannya di barisan pasukan. Apakah itu semua di jalan Allah? Beliau menjawab, “Barangsiapa yang berperang dengan tujuan agar kalimat Allah yang paling tinggi, itulah yang berada di jalan Allah.[7]

Allah Ta’ala berfirman tentang perbedaan nilai infak sesuai dengan niatnya.

 

Dan perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya untuk mencari ridha Allah dan untuk memperteguh jiwa mereka, seperti sebuah kebun yang terletak di dataran tinggi yang disiram oleh hujan lebat. Maka kebun itu menghasilkan buah-buah dua kali lipat. Jika hujan tidak menyiraminya, maka embun pun memadai. Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (Al-Baqarah: 265).

Kemudian firman Allah Ta’ala:

Dan juga orang-orang yang menginfakkan hartanya karena riya kepada orang lain, dan orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan kepada hari kemudian. Barangsiapa menjadikan setan sebagai temannya, maka dia adalah teman yang paling jahat.” (An-Nisa’: 38).

Hal ini berlaku untuk seluruh amal. Suatu amal dapat memiliki keutamaan tinggi dan berpahala besar sesuai dengan keikhlasan dan iman yang ada dalam hati. Bahkan, pemilik niat yang benar―khususnya bila dia mengiringinya dengan amal yang dia mampu―dikategorikan sebagai orang yang beramal (meski amalnya belum sempurna ia tunaikan, ―edt).

Allah Ta’ala berfirman:

 

Dan barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapatkan di bumi ini tempat hijrah yang luas dan rizki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian menimpanya sebelum sampai ke tempat yang dituju, maka sungguh pahalanya telah ditetapkan di sisi Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (An-Nisa’: 100).

Dalam hadis sahih yang marfu’ disebutkan:

 

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

 

Apabila seorang hamba sakit atau berpergian ditulis baginya apa yang dia kerjakan ketika sehat dan bermukim.[8]

Nabi saw juga bersabda:

 

إِنَّ بِالْمَدِينَةِ أَقْوَامًا مَا سِرْتُمْ مَسِيرًا وَلَا قَطَعْتُمْ وَادِيًا إِلَّا كَانُوا مَعَكُمْ – أي في نِيَاتهِمْ وَقُلُوْبهِمْ وَثَوَابهِمْ – حَبَسَهُمْ الْعُذْرُ

 

Di Madinah terdapat orang-orang yang selalu bersama kalian ketika menempuh perjalanan dan menuruni lembah ―yakni dalam niat, hati dan pahala mereka― dikarenakan mereka terhalang oleh uzur.[9]

Ketika seorang hamba meniatkan suatu perbuatan baik, kemudian dia tidak mampu melaksanakannya, maka niat dan keinginannya telah ditulis sebagai satu kebaikan yang sempurna.

Setiap perbuatan baik kepada makhluk dengan harta, perkataan, dan perbuatan, akan berbuah kebaikan, pahala, dan balasan di sisi Allah. Namun pahalanya akan menjadi besar dengan adanya niat. Allah Ta’ala berfirman:

Tidak ada kebaikan dari banyak pembicaraan rahasia mereka kecuali pembicaraan rahasia dari orang-orang yang menyuruh bersedekah, atau berbuat kebaikan, atau mengadakan perdamaian di antara manusia.” (An-Nisa’: 114).

Maksudnya ia adalah kebaikan. Kemudian Allah melanjutkan dengan berfirman:

 

Barangsiapa yang berbuat demikian karena mencari ridha Allah, maka kelak Kami akan memberinya pahala yang besar.”(An-Nisa’: 114).

Allah memberikan pahala yang besar bagi hamba yang melaksanakan amal tersebut karena mencari ridha Allah. Dalam hadis Al-Bukhari secara marfu’ disebutkan:

 

مَنْ أَخَذَ أَمْوَالَ النَّاسِ يُرِيدُ أَدَاءَهَا أَدَّاهَا اللَّهُ عَنْهُ وَمَنْ أَخَذَهَا يُرِيدُ إِتْلَافَهَا أَتْلَفَهُ اللَّهُ

 

Barangsiapa yang mengambil harta manusia dengan diiringi keinginan membayarnya niscaya Allah akan memudahkannya untuk menunaikannya. Dan barangsiapa yang mengambilnya karena ingin merusaknya niscaya Allah akan merusaknya.[10]

Lihatlah bagaimana Allah menjadikan niat baik sebagai sebab kuat datangnya rezeki, sehingga Allah menunaikannya, dan Allah menjadikan niat jelek menjadi sebab datangnya kerusakan.

Niat ini berlaku pula dalam perkara mubah atau perkara dunia. Misalnya seseorang yang meniatkan usaha atau pekerjaannya untuk menopang pelaksanaan hak-hak Allah. Atau orang yang ketika makan, minum, tidur, istirahat, dan mengais rezeki menghadirkan niat baik untuk menjalankan kewajiban atau perkara sunah. Maka aktivitas-aktivitas seperti itu akan berubah menjadi ibadah. Sehingga Allah senantiasa memberi berkah pada amal usaha hamba-Nya, membuka pintu kebaikan dan rizki yang tidak dia sangka dan tidak pernah terlintas dalam benaknya.

Sedangkan orang yang tidak memasang niat saleh ini karena kebodohan atau keteledorannya, maka tidaklah ia mencela kecuali kepada dirinya sendiri.

Dalam hadis sahih Nabi saw bersabda, “Tidaklah engkau beramal suatu amalan demi mencari wajah Allah melainkan engkau akan mendapatkan pahalanya, bahkan sampai apa yang engkau perbuat pada mulut isterimu.[11]

Berdasarkan keterangan ini menjadi jelaslah bahwa hadis ini mencakup seluruh perkara baik. Seorang mukmin yang menghendaki keselamatan dirinya seharusnya memahami makna hadis ini dan mengamalkannya dalam segala ruang waktunya.

Adapun hadis Aisyah rha bahwa Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa membuat perkara baru dalam perkara kami yang tidak termasuk darinya, maka ia tertolak.”[12] Dalam riwayat lain disebutkan, “Barangsiapa yang beramal yang tidak berdasarkan perintah kami niscaya ia tertolak.”[13]

Hadis ini menunjukkan bahwa secara manthuq (yang tersurat dalam teks) setiap bid’ah yang diadakan dalam agama yang tidak berdasar pada Al-Qur’an dan sunah baik berupa bid’ah perkataan (qauliyah) ―sebagaimana yang dilakukan para ahli kalam, jahmiyah, rafidlah, mu’tazilah dan lainnya― atau bid’ah perbuatan (amaliyah) ―seperti beribadah kepada Allah dengan ibadah yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya―maka semua itu tertolak. Para pelakunya adalah orang-orang yang tercela sesuai dengan kadar bid’ah mereka dan jauhnya mereka dari agama.

Orang yang memberitakan sesuatu yang tidak diberitakan Allah dan Rasul-Nya, atau beribadah dengan sesuatu yang tidak diperkenankan dan tidak pula disyariatkan Allah dan Rasul-Nya, maka dia menjadi pelaku bid’ah. Orang yang mengharamkan yang mubah atau beribadah dengan selain perkara syar’i juga menjadi pelaku bid’ah.

Adapun secara mafhum (yang tersirat di dalam makna) hadis ini menjelaskan bahwa orang yang mengamalkan suatu amal berdasarkan perintah Allah dan Rasul-Nya ―yakni ibadah kepada Allah dengan akidah yang benar dan amal saleh yang wajib maupun sunah― maka amalnya akan diterima dan usahanya layak untuk diberi pahala.

Hadis ini dijadikan dalil bahwa setiap ibadah yang dilakukan dengan cara terlarang adalah rusak. Karena amal tersebut tidak berdasar pada perintah Allah dan Rasul-Nya. Sementara itu larangan berkonsekwensi terhadap adanya kerusakan. Semua muamalah yang dilarang syariat hukumnya tidak sah dan tidak diakui.

disadur dari kumpulan hadist Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa’di

—————-

[1]Al-Bukhari dalam bab Bad’u Al-Wahyi Juz 1, Muslim dalam bab Al-Imarah no 1907, At-Tirmidzi dalam bab Fadhail Al-Jihad, An-Nasa’i dalam bab Ath-Thaharah no 75 Abu Dawud dalam bab Ath-Thalaq no 2201, Ibnu Majah dalam bab Az-Zuhdu no 4227, dan Ahmad 1/42.

[2] Al-Bukhari: Ash-Sulkh no 2550, Muslim dalam bab Al-Aqdhiyah no 1718, Abu Dawud dalam bab As-Sunnah no 4606, Ibnu Majah dalam bab Az-Zuhd no 4227, dan Ahmad: 6/270.

[3] Muslim dalam bab Al-Aqdhiyah no 1718, dan Ahmad: 6/146.

[4] Al-Furqan: 23.

[5] An-Nisa’: 125.

[6] Al-Baqarah: 112.

[7] Al-Bukhari, Al-Ilmu, 123, Muslim, Al-Imarah 1904, At-Tirmidzi, Fadlailu Al-Jihad, 1646, An-Nasa’I, Al-Jihad, 3136, Abu Dawud, Al-Jihad, 2517, Ibnu Majah, Al-Jihad, 2783, dan Ahmad, 4/417.

[8] Al-Bukhari, Al;-Jihad was Siyar, 2834, Abu Dawud, Al-Janaiz, 3091, Ahmad, 4/410.

[9] Al-Bukhari, Al-Maghazi, 4161, Ibnu Majah, 2764.

[10] Al-Bukhari, Bab Istiqradl wa Ada’i Duyun, 2257, Ibnu Majah, Al-Ahkam, 2411, Ahmad 2/417.

[11] Al-Bukhari, Al-Janaiz, 1234, Muslim, Al-Washaya, 2116, Abu Dawud, Al-Washaya, 2864, Ahmad, 1/176, Ad-Darimi, Al-Washaya, 3196.

[12] Al-Bukhari  Ash-Shulhu 2550, Muslim Al-Aqdliyah 1718, Abu Dawud As-Sunnah 4606, Ibnu Majah Al-Muqaddimah 14, Ahmad 270/6.

[13] Muslim Al-Aqdliyah 1718, Ahmad 146/6.

 

Related Articles

Add Comment