Kedudukan Keluarga Dalam Islam

Category: Keluarga 37 0

Pengertian Keluarga

Dilansir dari (wikipedia.org) bahwa keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri atas kepala keluarga dan beberapa orang yang terkumpul dan tinggal di suatu tempat di bawah suatu atap dalam keadaan saling ketergantungan.

Ayat al quran tentang keluarga dalam islam adalah firman Allah ta’ala dalam surat At-Tahrim , “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]: 6)

Sedangkan hadits tentang keluarga dalam islam adalah tentang tanggung jawab setiap anggota keluarga terdapat dalam riwayat Bukhari:

أَلَا كُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ، وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ، وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ، وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ، وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ، وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ، أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ، وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Ketahuilah! Masing-masing kalian adalah pemimpin, dan masing-masing kalian akan dimintai pertanggung-jawaban terhadap apa yang dipimpin. Seorang imam adalah pemimpin, dan ia akan dimintai pertanggung-jawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin anggota keluarganya. dan ia akan dimintai pertanggung-jawaban terhadap mereka. Seorang istri juga pemimpin bagi rumah suaminya, dan ia akan dimintai pertanggung-jawaban terhadap yang dipimpinnya. Seorang pembantu juga pemimpin atas harta tuannya, dan ia akan dimintai pertanggung-jawaban terhadap apa yang dipimpinnya. ” (HR. Bukhari)

PENTINGNYA KELUARGA ISLAMI

Membentuk keluarga islami adalah sesuatu yang penting. Sebuah benteng kokoh yang tak terkalahkan oleh musuh-musuh Islam. Di luar sana, banyak serangan musuh-musuh Islam dari berbagai medan, darat atau udara, menyerang bertubi-tubi. Dengan segala kekuatan, ingin mencerai-beraikan pertahanan benteng terakhir ini dan memukul hancur hingga pada titik pusaranya. Tapi dengan izin Allah, alhamdulillah sebagian keluarga sulit ditembus oleh serangan dahsyat ini, walaupun tidak sedikit pula yang jatuh dan runtuh berkeping-keping.

Allah berfirman, “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidil Haram dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah. Dan berbuat fitnah lebih besar (dosanya) daripada membunuh. Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. Barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, maka mereka itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.“ (QS. Al-Baqarah [2]: 217)

Inilah serangan bertubi-tubi dari musuh Islam. Lalu apa yang dipersiapkan oleh kaum muslimin untuk menghadangnya? Sampai kapan kita berhenti menonton tanpa ada rasa khawatir sama sekali terhadap bahaya-bahaya yang selalu mengintai kita dari berbagai arah?

Hal lain yang tak kalah pentingnya adalah mayoritas muslimin telah mempelajari berbagai disiplin ilmu seperti kedokteran, kimia, dan arsitektur. Tapi mereka lupa untuk mempelajari satu ilmu penting, yaitu arsitektur manusia. llmu yang mempelajari bagaimana mendidik anak dan mengajari mereka agar siap memikul beban risalah ilahiyah.

Sesungguhnya penjagaan eksistensi manusia dalam batas hidup sebenarnya perkara yang sangat mudah. Bahkan semua makhluk melakukan hal ini. Yang menjadi masalah utama adalah merubah unsur kemanusiaan ini menjadi unsur yang aktif dan semangat.

Pada zaman sekarang kepentingan bapak, ibu dan anak hampir berkutat pada makanan dan minuman. Kalau saja ada perhatian orang tua dalam hal ini, sungguh akan mendatangkan kebanggaan orang tua. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kebanyakan keadaan sebenarnya dari keluarga-keluarga kita adalah sebuah katastropik (malapetaka besar). kecuali keluarga yang masih dalam belas kasih Allah ta’ala. Ayah dan ibu sibuk bekerja. Sehingga tidak diketahui lagi mana tujuan dan ke arah mana orientasi anak-anak. bahkan kita pasrahkan nasib pendidikan anak-anak kita kepada waktu yang terus berjalan.

 

MASALAH KELUARGA DALAM ISLAM

Dalam berkeluarga tentunya banyak permasalahan yang harus diselesaikan. Bahkan mulai dari sebelum pernikahan yang disebut dengan ta’aruf hingga membangun keluarga islami. Akan tetapi Islam sudah mewanti-wanti itu semua. sehingga kalau kita mau belajar dengan seksama. mempelajari islam dengan kaffah, semua permasalahan dalam keluarga telah terbahas. termasuk hukum-hukum seputar pernikahan yang terangkum dalam fikih munakahat.

Related Articles

Add Comment