Ta’aruf Syar’i : Tidak Mengumbar Janji Palsu dan Jelas Tujuannya

Category: Keluarga 53 0

Ta’aruf Syar’i : Tidak Mengumbar Janji Palsu

 

Ada pula perkara lain yang dapat menggugurkan semua pilar yang ditentukan oleh islam. Untuk menjaga periode kehamilan keluarga ini mengumbar janji palsu dan dusta harus dihindari. yakni ketika pelamar laki-laki mulai berani menunjukkan mimpi-mimpi hayal, menjanjikan sesuatu yang dia sendiri sebenarnya tidak yakin bisa mewujudkannya.

Tidak sedikit pemuda yang menempuh proses peminangan dengan mengobral dan mengumbar janji yang muluk-muluk. Bergaya seolah itu akan menjadi kenyataan. Semua itu demi mendapatkan hati sang calon mempelai. dan ketika keduanya terbalut dalam ikatan pernikahan, maka saat itu pula kebohongan-kebohongan akan terungkap. tiada lagi penepatan janji. sebab ia sendiri sudah lupa apa yang ia janjikan ketika meminang.

Kemudian, akhirnya kedua belah pihak mengakui kelemahan masing-masing dan kebohongan yang di ucapkan dahulu. saat itulah rasa kecewa menyelip diantara hati. kehidupan keluarga menjadi rapuh, seakan kehidupan ini menjadi keruh. tiada lagi yang nyaris bisa diharapkan karena rasa kecewa menyelip didalam hati. kehidupan keluarga menjadi rapuh, seakan kehidupan ini menjadi keruh. Tiada lagi yang nyaris bisa diharapkan karena rasa kecewa. Rasa percaya juga akhirnya perlahan redup. Maka dari itu berhati-hatilah dalam berjanji. terlalu mengobral janji hanya akan membebani diri sendiri, apalagi jika janji-janji itu tidak bisa tertunai bahkan hingga pernikahan itu berakhir. Bersiaplah menerima balasan dari Allah ta’ala.

 

Ta’aruf Syar’i: Menjelaskan visi keluarga mendatang

 

Menjelaskan visi dan misi dalam membangun sebuah pernikahan, sering terlupakan oleh kedua belah pihak. Kebanyakan, kedua calon mempelai masih terbalut perasaan Yang membuncah di dalam hati mereka. Perasaan kasih sayang sekaligus rasa cinta yang menggemuruh, lantaran hati akan bersanding dengan jodohnya.

Meski demikian, hendaknya perasaan itu tidak melalaikan atau tidak membuat kedua mempelai melupakan esensi dan tujuan mereka membangun sebuah ikatan pernikahan. Kedua calon mempelai perlu untuk mendiskusikan,saling berbagi, perihal keluarga macam apa yang ingin dibentuk. Apa saja kode etik yang tidak boleh dilanggar, bagaimana cara membangunnnya serta, apa yang akan dilakukan apabila timbul permasalahan di dalam keluarga mereka dan juga hak serta kewajiban masing-masing pihak yang harus ditunaikan.

Semua itu harus diperjelas, dipertegas, dan disepakati bersama oleh kedua belah pihak sebagai panduan dalam membina keluarga. Termasuk juga mengatakan kepada calon pasangan perihal apa yang disukai dan apa yang tidak disukai. Agar nantinya, pasangan tersebut bisa menyesuaikan diri mereka masing-masing. Saling memberi dan saling menerima.

Berdiskusi dengan pasangan, akan dapat menambah wawasan, selain juga membangun sikap saling pengertian antar kedua belah pihak. Sehingga, masing-masing pihak bisa mengenali karakter seperti apa pasangannya itu. Fase pra-nikah adalah fase yang signifikan, menentukan kehidupan keluarga selanjutnya. Memperhatikan dan menggariskan standar keluarga mendatang adalah suatu hal yang harus diketahui dan dijelaskan sejak dini agar mampu mengokohkan bangunan keluarga utuh dan harmonis serta memperlancar kelahiran keluarga baru dengan izin Allah Ta’ala.

Related Articles

Add Comment