Tips Ta’aruf Syar’i: Tidak Berbasa-Basi Dalam Memilih

Category: Keluarga 103 0

Tips Ta’aruf Syar’i – Berbasa-basi dalam memilih, bisa mendatangkan musibah tersendiri dalam keluarga. Jujurlah dalam memilih. Katakan apa yang tidak disuka, apa yang disuka, serta apa yang bisa diberikan sebagai mahar untuk pernikahan kelak. Apabila pernikahan kelak dipaksakan, tanpa menghiraukan kegundahan yang mengganjal di hati, maka akan menimbulkan sebuah penderitaan dalam keluarga, baik itu bagi salah satu pihak, maupun bagi kedua belah pihak. ‘ ta'aruf syar'i

Dalam sebuah riwayat hadits Bukhari, dikisahkan bahwa Rasulullah saw tidak berbasa-basi dalam urusan pernikahan. Diriwayatkan bahwa pada suatu ketika seorang datang kepada Rasulullah saw: menawarkan dirinya untuk dinikahi oleh Rasulullah. Namun Rasulullah saw menolaknya. Kemudian seorang sahabat menawarkan dirinya sebagai suami perempuan tersebut.

Rasulullah saw kemudian bersabda, “Berilah dia baju (sebagai mahar).” Sahabat itu menjawab, “Saya tidak memilikinya.” Beliau saw kembali bersabda, “Berilah dia Walaupun cincin besi. ” Akan tetapi sahabat itu masih belum bisa memenuhinya. Kemudian, Rasulullah saw bersabda, ‘Surah Al-Quran apa saja yang telah kamu hafal?” Sahabat itu menjawab, “Surah ini dan itu…” kemudian Rasulullah saw bersabda, “Aku menikahkanmu dengan perempuan dengan mahar berupa hafalan surat Al-Qur’an. ”(H.R Bukhari, Shahih Bukhari no. 5029)°

Rasulullah saw adalah sosok yang tidak pernah menolak permintaan siapapun. Beliau saw adalah pribadi yang mulia dan penuh dengan belas kasih. Namun, dalam urusan pernikahan, beliau dengan tegas menolak seorang perempuan yang menawarkan dirinya untuk menjadi istri bagi Rasulullah saw. Beliau saw tidak berbasa-basi. Dalam perkara jodoh, yang diperlukan adalah ketegasan dalam mengambil sikap. Bukan plin-plan dalam menjatuhkan pilihan.

Tips Ta’aruf Syar’i: Jelas, terbuka apa adanya

Sifat yang harus ada dalam diri seorang muslim adalah sikap terbuka, jujur dan apa adanya. Menjauhi sebisa mungkin sifat berpura-pura,kesamaran, ketidak-jelasan, memakai topeng aneka rupa dalam pergaulan di dalam masyarakat. Apalagi dalam hal perjodohan. Kejujuran adalah harga mati yang tidak bisa ditawar. Banyak orang beranggapan bahwa periode ini adalah suatu periode pendekatan. Sehingga, cara apapun termasuk berbohong itu dibolehkan.

Ibarat dia menggambar di atas lembaran-lembaran air atau di atas lukisan-lukisan kesenian untuk hidup senang-senang. Seakan-akan tali kekang mulut dilepas bebas sehingga dia bisa berkata sekehendaknya. Dia tidak merasa memikulkan beban atas dirinya sendiri, seakan-akan dia mampu membawanya. Dia menodai esensinya secara konkrit hanya dengan sekilas imajinasi yang dalam dan dia mengaburkan kelakuan-kelakuan jeleknya dengan warna-warni yang cerah nan indah, seperti dia tunjukkan kemajuan dirinya, komitmen, dan cinta sejati. Pada sisi yang lain, beberapa pemuda sering membicarakan tentang diri seorang perempuan dengan khayalan-khayalan. Sehingga kedua belah pihak, semuanya menjadi semu. Keduanya berbenturan dan saling berlawanan pada malam pertama, mengalami kenyataan yang pahit. Seakan-akan tiap-tiap dari keduanya menikah karena khayalan yang lain.

 

Related Articles

Add Comment